Sumbawa Besar, NTB, xposeTV, (2 Mei 2026),โ Peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) di Sumbawa tahun ini berlangsung panas. Aliansi Mahasiswa Sumbawa Melawan menggelar aksi mimbar bebas di depan Kantor Bupati Sumbawa, Ju’mat (1/5/2026), dengan membawa sederet isu tajam mulai dari ketimpangan nasib buruh, komersialisasi pendidikan, hingga dugaan โpermainanโ dalam kasus BBM subsidi di daerah.
โAliansi yang terdiri dari Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Barisan Masyarakat Indonesia (BMI), dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) itu lantang menyuarakan bahwa kesejahteraan buruh hingga kini masih jauh dari kata layak.
โDalam orasinya, massa menyoroti jurang lebar antara buruh formal dan informal, di mana pekerja informal disebut hanya menerima upah sekitar setengah dari standar hidup layak.
โKondisi tersebut diperparah dengan maraknya sistem kerja tidak pasti seperti outsourcing dan kontrak, serta ancaman PHK yang terus menghantui di tengah ketidakpastian ekonomi global.
โTak hanya itu, sektor pendidikan turut menjadi sasaran kritik keras. Aliansi menilai arah kebijakan pendidikan saat ini semakin menjauh dari hak dasar rakyat. Pendidikan dianggap telah berubah menjadi komoditas yang tunduk pada logika pasar.
โ โPendidikan seharusnya menjadi hak, bukan barang dagangan. Tapi hari ini, pendidikan justru diperdagangkan,โ tegas salah satu orator.
โMereka juga menyoroti minimnya pelibatan publik dalam penyusunan kebijakan, termasuk dalam rencana revisi RUU Sisdiknas, yang dinilai semakin menggerus fungsi pendidikan sebagai alat pembebasan.
โAliansi bahkan mengaitkan persoalan tersebut dengan masalah struktural yang lebih luasโmulai dari sistem ekonomi hingga kondisi demokrasi yang dinilai mengalami kemunduran.
โMereka menuding meningkatnya tindakan represif terhadap gerakan rakyat sebagai tanda nyata bahwa ruang demokrasi semakin menyempit.
โDalam aksinya, massa menyampaikan sejumlah tuntutan tegas kepada pemerintah: pendidikan gratis tanpa syarat dari dasar hingga perguruan tinggi, demokratisasi kampus, reforma agraria sejati, jaminan upah layak bagi buruh, penghentian tindakan represif, hingga nasionalisasi aset vital di bawah kontrol rakyat.
โDi level daerah, aksi semakin memanas saat Ketua SMI Cabang Sumbawa, Sirajuddin alias Bul, membongkar dugaan penimbunan ilegal BBM jenis biosolar subsidi di wilayah Brang Biji (Kebayan) yang sebelumnya sempat viral.
โDengan nada tinggi, Bul mempertanyakan keseriusan aparat penegak hukum (APH) dalam menangani kasus tersebut. Ia menilai ada kejanggalan mencolok, terutama karena alat-alat yang diduga digunakan dalam praktik penimbunan belum diamankan.
โ โKalau memang sudah ditangani, kenapa alatnya belum disita? Kami menduga ada permainan! Jangan tutup-tutupi, ayo buka data ke publik!โ teriaknya lantang, disambut sorakan massa aksi.
โTak berhenti di situ, massa juga menyoroti dugaan kejanggalan penggunaan alat tester kadar air di sejumlah gudang di Sumbawa yang dinilai bermasalah secara perizinan dan rawan disalahgunakan.
โBahkan, mereka menyinggung dampak lingkungan dari aktivitas salah satu gudang jagung yang diduga tidak mematuhi izin AMDAL, sehingga memicu keresahan warga sekitar.โ
โAliansi Mahasiswa Sumbawa Melawan menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan titik awal perlawanan yang lebih besar. Mereka mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu memperjuangkan hak buruh dan pendidikan yang adil.
โโIni bukan akhir. Ini awal. Kami pastikan akan ada aksi jilid dua dengan kekuatan yang lebih besar,โ tegas mereka.
โAksi May Day di Sumbawa pun menjadi sinyal keras bahwa mahasiswa yang mewakili suara rakyat tidak bisa lagi diabaikan. Ketika ketimpangan terus dibiarkan, jalanan akan selalu menjadi panggung perlawanan. (Red)






































