XPOSETV// Sumbawa Barat – Anak Yatim Piatu Tanah KSB Menangis, Jeritan hati seorang anak yatim piatu di Tanah KSB mengguncang perhatian publik. Di tengah gaung program bantuan sosial KARTU KSB MAJU yang disebut-sebut untuk kesejahteraan masyarakat, seorang warga miskin ekstrem justru mengaku hidup terlantar tanpa pernah tersentuh bantuan sedikit pun. Kamis (21/05/2026).
Pengakuan pilu itu disampaikan langsung oleh Romi, warga asli Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang mengaku sejak lahir telah hidup tanpa kedua orang tua. Ia tumbuh seorang diri tanpa ayah, tanpa ibu, bahkan tanpa keluarga yang merawat maupun memperjuangkan kehidupannya.
Diduga Bantuan Salah Sasaran, Warga Miskin Ekstrem Mengaku Tak Pernah Didata TIM ARG
Dengan suara penuh kesedihan, Romi mengungkapkan bahwa selama hidup di tanah kelahirannya sendiri, dirinya tidak pernah merasakan perhatian maupun bantuan sosial dari pihak mana pun. Ia hidup dalam kondisi memprihatinkan, tanpa rumah, tanpa tanah, dan tanpa harta benda.
“Saya lahir dan besar di Tanah KSB. Tapi sampai hari ini saya seperti tidak dianggap ada. Saya hidup sendiri, tidak punya siapa-siapa, tidak punya rumah, dan tidak pernah mendapat bantuan apa pun,” ungkapnya penuh haru.
Romi kemudian menyoroti program KARTU KSB MAJU yang menurutnya tidak berjalan sesuai harapan masyarakat kecil. Ia menilai bantuan tersebut diduga hanya diberikan kepada warga yang telah didata oleh TIM ARG tertentu, sementara masyarakat miskin yang benar-benar membutuhkan justru terabaikan.
Menurut pengakuannya, fakta di lapangan memperlihatkan bahwa banyak penerima bantuan justru berasal dari kalangan yang telah hidup berkecukupan, memiliki rumah layak, bahkan kondisi ekonomi yang relatif stabil.
“Yang masuk daftar kebanyakan orang yang sudah mampu, punya rumah bagus dan hidup enak. Sedangkan saya yang benar-benar miskin dan tidak punya tempat tinggal, tidak pernah didata,” tegasnya.
Pernyataan itu kini menjadi sorotan dan memantik pertanyaan besar di tengah masyarakat terkait validitas pendataan penerima bantuan sosial di Kabupaten Sumbawa Barat. Publik mulai mempertanyakan apakah program bantuan benar-benar tepat sasaran atau justru menyisakan ketimpangan sosial yang menyakitkan bagi warga miskin ekstrem.
Romi menilai kondisi tersebut sangat tidak adil bagi anak yatim piatu dan masyarakat miskin yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Ia berharap pemerintah daerah dan pihak terkait membuka mata terhadap kondisi rakyat kecil yang benar-benar membutuhkan uluran tangan.
“Apakah kami yang miskin ini bukan warga KSB? Apakah anak yatim piatu tidak punya hak untuk mendapatkan bantuan di tanah kelahirannya sendiri?” ujarnya lirih.
Pengakuan Romi menjadi gambaran keras tentang masih adanya warga yang merasa tersisih dari program kesejahteraan sosial. Di balik megahnya berbagai program bantuan, masih ada suara rakyat kecil yang mengaku belum pernah merasakan kehadiran negara.
Kini masyarakat menanti respons dari pihak terkait mengenai dugaan ketimpangan pendataan bantuan tersebut. Transparansi dan validasi data penerima bantuan dinilai menjadi hal penting agar program sosial benar-benar menyentuh masyarakat paling membutuhkan.
Jeritan Romi bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan suara hati rakyat kecil yang selama ini merasa terlupakan di tanah kelahirannya sendiri.
Narsum: Romi Tim Media KSB
Red: H A






































