XposeTV – Gorontalo. Dunia Pers Bukan dunia yang asing bagi Hamka Hendra Noer, dan ada yang istimewa bagi Penjabat Gubernur Gorontalo tersebut di Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2023 ini.
Hamka Hendra Noer adalah anak dari Kadir Paludi Noer seorang wartawan kondang di Provinsi Sulawesi Utara, saat itu Gorontalo masih menjadi bagian dari daerah ini.
Di Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini Hamka Hendra Noer mengenang perjalanan persentuhannya dengan dunia jurnalsitik.
“Saya lahir dari seorang ayah Kadir P Noer yang berprofesi sebagai wartawan,” kata Hamka Hendra Noer, Rabu (8/2/2023).
Baca: Dinas-Ketahanan-Pangan-Provinsi-Road-Show-Ke-Dinas
Kadir P Noer ini menjadi wartawan kawakan yang dikenal idealis dan kritis, ini tercermin dari karya jurnalistiknya tajam daalm menyajikan fakta-fakta di lapangan. Tulisan Kadir P Noer ini selalu dinanti masyarakat, namun tidak dengan orang yang suka bermain anggaran.
“Saya bahkan tidak bisa masuk di SMA favorit di Manado gara-gara ayah menulis kasus dugaan korupsi di Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Utara,” kata Hamka Hendra Noer saat bertemu para wartawan beberapa waktu lalu.
Sikap kritis dan gigih dalam mempertahankan pendapat seorang Kadir P Noer ini berimplikasi pada anaknya, Hamka Hendra Noer tidak bisa masuk sekolah favorit, fakta ini menjadi bagian perjalanan hidupnya.
Pengalaman hidup dalam keluarga yang berprofesi sebagai wartawan inilah yang membesarkan Hamka Hendra Noer, sifat kritis dan jeli melihat sesuatu menjadi sifat khasnya.
Ia juga selalu cek dan ricek sebelum memutuskan sesuatu, karena tidak ingin keputusannya menjadi masalah baru.
“Saya bangga dengan peran ayah sebagai wartawan. Sejak kuliah dulu, saya ingin sekali menjadi wartawan namun oleh ibu saya diminta fokus pada keilmuan yang saya pilih,” ujar Hamka Hendra Noer.
Hamka Hendra Noer tidak hanya melihat ayahnya melalui karya jurnalsitik yang dihasilkan, bahkan bertahun-tahun ia melihat langsung tahapan perkembangan media melalui aktifitasnya ayahnya.
“Saya sering lihat ayah membuat layout koran, naskah yang sudah dicetak pada kertas khusus dipotong-potong untuk disusun menjadi tampilan koran, pada waktu itu masih sangat manual,” kenang Hamka Hendra Noer.
Kesaksian tahapan produksi media cetak secara manual oleh Hamka Hendra Noer di masa lalu menjadi bukti ia sangat dekat dengan dunia media, bahkan ia besar dan dibiayai oleh gaji hasil keringat seorang wartawan hingga pendidikan sarjana.
Darah kewartawanan seorang Kadir P Noer ini menurun pada anaknya, Hamka Hendra Noer mewarisi kemampuan menuangkan ide dan gagasan dalam tulisan, ini menjadi bekal penting dalam proses pendidikan dan interaksinya di kemudian hari.
Hamka Hendra Noer telah banyak memproduksi tulisan, baik populer semacam esai maupun penelitian. Karyanya telah banyak menghiasi media. Bahkan ia telah memproduksi 22 jurnal dan menerbitkan sejumlah buku.
Salah satu buku karyanya berjudul Ketidaknetralan Birokrasi Indonesia (Studi zaman orde baru sampai orde reformasi) setebal 360 halaman.
Karya ini merupakan disertasinya program doktoral di National University of Malaysia. Dari disertasi ini ia menerima penghargaan dari National University of Malaysia.(Source:InfoPublik.id)
(Z.M)






































