![]()
Manado, XposeTV—Lapangan Tikala kembali menjadi sorotan akibat kerusakan rumput yang kian parah. Padahal, ruang terbuka hijau ini seharusnya menjadi tempat olahraga dan rekreasi warga, tetapi justru berubah jadi tempat parkir liar—bahkan oleh kendaraan dinas berplat merah. Sungguh ironis, fasilitas publik dirusak oleh pihak yang seharusnya paling tahu aturan.
Pantauan di lokasi menunjukkan betapa tidak pedulinya beberapa pengguna lapangan. Kendaraan roda empat seenaknya parkir di atas rumput yang sebenarnya sedang dalam proses pemulihan. Alih-alih menjaga, oknum-oknum ini malah memperburuk kondisi. Tindakan semacam ini jelas mencerminkan mentalitas yang semena-mena terhadap fasilitas umum.
Warga yang kerap memanfaatkan lapangan ini pun menyayangkan sikap para pengguna kendaraan dinas. “Mereka seharusnya memberi contoh baik, bukan malah merusak,” ujar seorang warga dengan nada kesal. Memang, sudah seharusnya aparat lebih menghargai aset publik ketimbang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.
Lemahnya pengawasan dari pihak berwenang juga turut disorot. Tanpa penjagaan ketat, lapangan ini seperti dibiarkan menjadi sasaran vandalisme berkendara. Padahal, pemasangan rambu larangan atau pembatasan akses bisa dengan mudah dilakukan jika ada kemauan. Tapi nyatanya, hal itu seolah diabaikan.
Kerusakan ini bukan sekadar persoalan estetika, melainkan juga ancaman bagi ekosistem kota. Lapangan Tikala berfungsi sebagai paru-paru Manado, dan jika terus dibiarkan rusak, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh warga. Sayangnya, nampaknya kepedulian terhadap hal ini masih sangat minim.
Masyarakat mendesak Bagian Umum Pemkot Manado untuk bertindak tegas. Jika tidak, kerusakan akan terus berulang, dan lapangan ini perlahan kehilangan fungsinya. Pertanyaannya, sampai kapan warga harus menunggu keseriusan pemerintah?
Harapan akan perbaikan masih ada, tetapi tanpa tindakan nyata, Lapangan Tikala hanya akan menjadi simbol ketidakpedulian bersama. Warga pun mengingatkan: fasilitas publik adalah milik bersama, bukan tempat untuk memuaskan kepentingan segelintir orang.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Lapangan Tikala akan berubah menjadi tanah lapang gersang tanpa manfaat. Dan ketika itu terjadi, siapa lagi yang akan disalahkan selain kelalaian bersama? (Rusli Datu)






































