XposeTV – Gorontalo. Tradisi unik Walima untuk perayaan maulid Nabi di Gorontalo, dan masyarakat muslim di Gorontalo mengenal perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul Awal.
Perayaan Maulid Nabi di berbagai daerah dilaksanakan dengan berbagai ragam tradisional, salah satunya Walima yang dilakukan oleh masyarakat Desa Suka Damai Kecamatan Bilato Kabupaten Gorontalo pada Rabu, (12/10/2022).
Baca Juga: Jajaran-Polresta-Malang-Sujud-Massal-Minta-Maaf-Ke-Keluarga-Korban-Tragedi-Kanjuruhan
Tradisi Walima adalah sebuah tradisi perayaan Maulid Nabi yang dilaksanakan turun-temurun sejak munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Gorontalo.

Sejak tersebarnya Islam di seluruh penjuru dunia, berbagai negara yang sebagian besar masyarakatnya menganut agama Islam masing-masing menunjukkan sisi keislamannya dengan tradisi masing-masing daerah.
Baca Juga: Inseden-Kanjuruhan-Korban-Alami-Iritasi-Mata-Disambangi-Polresta
Gorontalo merupakan salah satu Provinsi yang memiliki jumlah penganut agama Islam terbesar di Indonesia dan menunjukan hal yang sama, dimana Islam sangat berkembang pesat dengan penyesuaian tradisi dan budaya setempat yang sangat melekat.
Memasukkan unsur budaya dalam ajaran Islam memang bukanlah sesuatu hal yang baru di dunia Islam, berbagai negara Islam lainnya pun melakukan hal yang sama namun berbeda tradisi.
Kemudian Tradisi Walima ini mulai ada di Gorontalo sejak masyarakat mulai mengenal ajaran Islam, pada abad ke-17, meski merupakan tradisi lama, namun sampai saat ini pelaksanaan Walima masih terpelihara dengan baik.
Kegiatan perayaan Maulid Nabi akan dimulai dengan didahului oleh lantunan Dikili atau tradisi lisan (dzikir) oleh masyarakat Gorontalo yang dilakukan di masjid-masjid, sementara di rumah-rumah, tiap keluarga juga biasanya telah membuat berbagai makanan atau kudapan tradisional khas Gorontalo.
Kudapan tradisional yang dibuat untuk perayaan Walima biasanya berupa kolombengi, curuti, buludeli, wapili, dan lutu, setelah itu kudapan akan dibungkus satu per satu dengan plastik untuk kemudian disusun di dalam sebuah Tolangga.
Pada akhir dzikir dan doa, Walima maupun Tolangga yang telah diarak ke masjid akan kembali dibagikan kepada masyarakat Gorontalo atau tamu-tamu yang di undang oleh Ta’mir masjid.
Dalam perkembangan budaya ataupun tradisi Gorontalo, agama memang merupakan dua sisi yang berbeda, agama merupakan sesuatu keyakinan setiap insan manusia dan sebagai identitas diri penganutnya yang diyakini dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara tradisi adalah kebijakan dan kebiasaan masyarakat Gorontalo turun temurun yang diyakini, selanjutnya diterapkan dan dilaksanakan oleh masyarakat yang mempercayainya tanpa ada aturan tertulis yang sudah menjadi kebiasaan.
Dalam kelompok masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam kebudayaan yang masing-masing berbeda dalam suatu daerah, menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan bagian terpenting dalam perkembangan Islam di negara ini.
Tradisi Walima untuk perayaan Maulid Nabi di Gorontalo adalah sebuah pembauran antara agama dan budaya di masing-masing daerah di Indonesia menjadi salah satu corak agama Islam di negara ini yang mudah untuk dikenali dan dijumpai dalam masyarakatnya.
red:(Zepry M)





































