![]()
Sulut – XposeTV. Tahlis Gallang, sosok birokrat senior asal Bolaang Mongondow Raya (BMR), kembali menorehkan sejarah dengan ditunjuk sebagai Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulawesi Utara (Sulut) oleh Gubernur Yulius Selvanus. Penunjukan ini mengukuhkan reputasinya sebagai “Jogugu” modern—julukan yang merujuk pada peran penasihat utama dan penggerak pemerintahan dalam tradisi kerajaan BMR.
Tahlis Gallang menjadi satu-satunya aparatur sipil negara (ASN) di BMR yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) definitif di tiga wilayah berbeda: Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Kota Kotamobagu, dan Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Kariernya dimulai dari jabatan struktural bawah seperti camat, kepala dinas, hingga asisten, sebelum akhirnya memimpin roda birokrasi di tingkat daerah.
Keahliannya dalam mengelola pemerintahan dan keuangan daerah pertama kali diuji saat mendampingi almarhum Bupati Bolsel H. Herson Mayulu. Prestasinya menarik perhatian Wali Kota Kotamobagu Tatong Bara, yang memboyongnya ke kotanya pada 2020. Dua tahun kemudian, Bupati Bolmong Yasti Supredjo Mokoagow juga meminta Tahlis untuk mengawal pembenahan birokrasi di wilayahnya.
Setelah tiga kali menjadi “tangan kanan” kepala daerah, Gubernur Olly Dondokambey mengangkat Tahlis sebagai Kepala Dinas di lingkungan Pemprov Sulut pada 2023. Kemampuannya diuji lagi saat ditugaskan sebagai Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Bolsel pada 2024, menggantikan Iskandar Kamaru yang cuti kampanye Pilkada.
Kini, sebagai Plh Sekprov Sulut, Tahlis dituntut menjadi “jogugu” bagi Gubernur Yulius—posisi yang dalam adat BMR setara dengan panglima penjaga hukum dan penasihat utama raja. “Ini adalah kepercayaan yang tidak main-main. Tugas saya adalah memastikan kebijakan pemerintah provinsi berjalan sesuai koridor dan melayani masyarakat,” ujar Tahlis dalam keterangan resminya.
Baca juga: sulut-ekspor-teripang-ke-as-gubernur-kritik-minimnya-pad/
Keunggulan Tahlis terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan gaya kepemimpinan yang berbeda. Di Bolsel, ia bekerja di bawah Bupati Herson Mayulu yang tegas dan disiplin. Di Kotamobagu, ia merapikan sistem birokrasi ala Wali Kota Tatong Bara yang visioner. Sementara di Bolmong, ia berhasil menstabilkan administrasi pasca-Pilkada di era Bupati Yasti.
“Beliau mampu menjaga netralitas birokrasi tanpa kehilangan komitmen pada kepala daerah. Ini langka di dunia ASN,” puji beberapa tokoh ASN senior Bolmong.
Penunjukan Tahlis sebagai Plh Sekprov Sulut juga menjadi kebanggaan masyarakat BMR. Dalam tradisi setempat, Jogugu adalah simbol integritas dan penjaga harmoni antara hukum adat dan kepemimpinan. Gubernur Yulius, melalui keputusannya, seolah mengakui warisan budaya ini sambil mengedepankan kompetensi.
“Jika Tahlis berkunjung ke BMR secara resmi, kami akan menyambutnya dengan tata cara adat. Ini bentuk penghormatan pada putra terbaik yang membawa nama BMR ke tingkat provinsi,” ujar beberapa Lembaga Adat BMR.
Dengan segudang tantangan di depan mata—mulai dari percepatan pembangunan hingga penyelesaian konflik birokrasi—Tahlis Gallang diharapkan tetap konsisten sebagai “jogugu” yang mengedepankan prinsip: “Birokrasi harus mengalir seperti air, jernih dalam kebijakan, kuat dalam pelayanan.”
Selamat bekerja, Sang Jogugu! (JS)






































