XPOSE TV//Lombok Barat, NTB – Mengedukasi masyarakat tentang migrasi aman, kegiatan talkshow bertajuk “Migrasi Aman dan Resmi” digelar di Lombok Barat sebagai bagian dari upaya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya proses migrasi yang aman dan resmi. Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Lombok Barat bekerja sama dengan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI), Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Pusat, dan International Organization for Migration (IOM) Indonesia, serta didukung oleh Rumah Perempuan Migran (RPM). Minggu (3/11/2024).
Acara ini dihadiri oleh beberapa tokoh penting, termasuk Kepala Disnakertrans Lombok Barat Ibu Baiq Fuji, Kepala Dinas Tenaga Kerja NTB Bapak I Gede Putu Ariyadi, Kepala BP3MI Mataram Bapak Norman Adiguna, serta Ibu Entik Atikah dari BP2MI Pusat dan turut hadir juga tim Kawan PMI NTB Kabupaten Lombok Barat. Moderator acara adalah Zyzy dari IOM Indonesia. Kegiatan mengedukasi masyarakat tentang migrasi aman ini terbuka bagi masyarakat di sekitar wilayah Desa Kekait, Bengkaung, dan Kayangan yang pernah menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau calon pekerja migran (CPMI) yang sedang mempersiapkan keberangkatan.
Acara diawali dengan sambutan dari perwakilan IOM, BP2MI, dan BP3MI, serta Kepala Disnaker NTB. Ibu Baiq Fuji, pemateri pertama, memaparkan proses pengurusan dokumen resmi bagi calon PMI, termasuk syarat administrasi seperti KTP, KK, surat izin keluarga, surat nikah bagi yang sudah menikah, dan pemeriksaan keabsahan dokumen sebelum pembuatan paspor.
Materi dilanjutkan oleh Bapak Norman Adiguna yang menjelaskan mekanisme pengaduan bagi PMI yang mengalami masalah di luar negeri. Menurutnya, sebagian besar pengaduan berasal dari PMI non-prosedural yang tidak terlindungi karena dokumen tidak sah. Isu yang dialami PMI non-prosedural lebih kompleks, mulai dari kerja paksa hingga terlibat kasus prostitusi, sedangkan PMI prosedural lebih sering terkait masalah kontrak dan gaji. Pengaduan dapat disampaikan melalui keluarga atau kerabat di Indonesia.
Pemateri ketiga, Ibu Mega Nisfa Makhroja dari RPM, membahas pentingnya perencanaan keuangan bagi para PMI. Berdasarkan pengalamannya, banyak PMI yang tidak memiliki rekening pribadi sehingga pengiriman uang dilakukan melalui teman, yang berpotensi menimbulkan risiko keuangan. Beliau mendorong PMI untuk memiliki tujuan keuangan sebelum bekerja di luar negeri dan mengelola pendapatan dengan baik.
Sementara itu, Ibu Entik Atikah dari BP2MI Pusat menyoroti peluang kerja di luar negeri. Menurut data, periode Mei 2022 hingga Oktober 2024, Malaysia membutuhkan tenaga kerja untuk berbagai posisi, seperti baby sitter, caretaker, housekeeper, pekerja perkebunan, dan pekerja konstruksi. Beliau juga mengarahkan masyarakat untuk mengakses lowongan kerja resmi melalui situs SISKOP2MI.
Selain mendengarkan paparan dari narasumber, beberapa mantan PMI membagikan pengalaman mereka. Salah satunya adalah Bapak Yunus, seorang difabel yang sempat bekerja di Malaysia melalui jalur nonprosedural. Beliau menceritakan tantangan yang dihadapinya hingga akhirnya memilih pulang tanpa membawa hasil. Sementara itu, Bapak Zul, seorang PMI prosedural di Johor, berbagi kisah keberhasilannya dan menggarisbawahi pentingnya sikap baik dan niat tulus saat bekerja.
Acara ditutup dengan pemberian doorprize bagi peserta dan sesi tanya jawab terkait materi yang telah disampaikan.
Red: H A





































