![]()
Membangun Kekompakan dan Silaturahmi Keluarga Besar Bani Bakri Baqo’ di Malang
XposeTV // Malang – Ikatan Keluarga Besar Bani Bakri Baqo’ Telagah Madura (IKBAT) Malang Raya menggelar pertemuan yang berlangsung meriah dan khidmat di Pondok Pesantren Ash-Siddiqi Karanglawas Rejoyoso Bantur Malang, dikediaman Ketua IKBAT Malang Raya, Gus( Saifulloh Shiddiq. Acara ini berlangsung pada Minggu, 18 Mei 2025, mulai pukul 09.00 hingga selesai.
Pertemuan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathon, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Pelaksana, Bapak Ach. Hussairi, dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kekompakan dan kerja sama di antara keluarga IKBAT untuk kemajuan bersama di masa depan.
Tuan rumah sekaligus Ketua IKBAT Malang Raya, Gus Saifulloh Shiddiq, juga menyampaikan harapannya agar pertemuan seperti ini dapat menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi dan meningkatkan partisipasi anggota IKBAT. Beliau berharap agar ke depannya lebih banyak anggota yang hadir dan terlibat aktif dalam setiap kegiatan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan istighosah, tahlil, dan mahallul qiyam, yang menambah nuansa spiritual dan kekeluargaan dalam pertemuan tersebut. Puncak acara adalah ngaji bersama dengan tema “Keutamaan Silaturahmi,” sebagai Narasumber Kiyai Zubairi Fauzi dan dimoderatori oleh Ustadz Siddiq. Diskusi yang berlangsung hangat dan penuh hikmah semakin mempererat hubungan di antara para Peserta dan Narasumber.
Puncak acara dimeriahkan dengan pembagian doorprize besar-besaran, yang menambah antusiasme dan kegembiraan bagi seluruh peserta. Acara ini menjadi bukti bahwa IKBAT Malang Raya mampu membangun komunitas yang solid, penuh kasih sayang, dan saling mendukung.
Dengan berakhirnya acara ini, diharapkan silaturrahmi dan kekompakan di antara keluarga IKBAT Malang Raya semakin kuat dan membawa manfaat bagi semua anggota serta masyarakat luas.
Ada Empat Alasan yang mendasari Silaturahmi Keluarga “IKBAT”
1. Sosial
Alasan sosial pertemuan keluarga IKBAT lebih bersifat sosiologis yaitu membangun hubungan sosial sesama anggota keluarga yang berasal dari keturunan yang sama.
Alasan ini bertujuan antara lain mempererat silaturahmi antara keluarga, mengenalkan anggota keluarga baru, mempertemukan semua anggota keluarga yang terpencar di berbagai daerah akibat tugas pekerjaan masing-masing, mempertahankan nilai-nilai kehidupan yang menjadi kesepakatan generasi penerus, mengenalkan norma-norma keluarga kepada generasi penerus, dll.
Apalagi di era teknologi dengan segenap dampaknya, sangat berpengaruh pada tata nilai sosial keluarga yang cenderung mementingkan dirinya sendiri. Maka pertemuan keluarga IKBAT ini, merupakan upaya untuk mengikat semua anggota keluarga pada nilai-nilai sosial yang sudah diwariskan oleh generasi terdahulu yaitu rajutan silaturahmi antar anggota keluarga yang berasal dari keturunan yang sama.
Alasan yang bersifat sosiologis juga berkaitan dengan pertimbangan status sosial peletak dasar generasi. Status sosial generasi awal bisa dirawat dan dipertahankan melalui pertemuan keluarga.
Melalui pertemuan keluarga IKBAT, kepada generasi penerus dikenalkan dan disosialisasikan tentang status sosial generasi awalnya. Dengan kata lain pertemuan keluarga IKBAT menjadi salah satu upaya melanggengkan status sosial secara turun temurun.
2. Budaya
Alasan budaya yang mendasari pertemuan keluarga IKBAT adanya falsafah hidup generasi awal, tradisi dan adat istiadat yang dipedomani, maupun budaya yang dianggap adiluhung oleh generasi awal (seperti bahasa, adat, falsaf hidup,dll).
Internalisasi budaya tersebut bisa berpengaruh pada kepribadian khusus yang ingin diwariskan. Seperti diketahui bahwa dalam telaah sosiologi kepribadian seseorang atau keluarga selain dipengaruhi oleh faktor internal (diri dan keluarganya) juga bisa dipengaruhi oleh pengaruh budaya masyarakatnya, sehingga muncul istilah kepribadian kolektif.
Kepribadian kolektif yang berkembang di masyarakat, belum tentu semua dianggap sesuai dengan visi keluarga jangka panjang. Maka setiap keluarga IKBAT yang menjadi peletak dasar keturunan juga mempunyai tata nilai budaya yang menjadi pilihan keluarga generasi awal yang perlu diwariskan secara turun temurun. Sehingga pertemuan keluarga IKBAT dianggap sebagai sarana efektif untuk mewariskan nilai-nilai budaya adiluhung yang dipedomani oleh generasi awal.
3. Psikologis
Alasan psikologis yang mendasari pertemuan keluarga IKBAT adalah perasaan bangga terhadap generasi awalnya. Perasaan ini bisa membentuk sikap untuk mempertahankan “marwah keluarga”. Dengan kata pertemuan keluarga IKBAT dapat memperkuat solidaritas sosial antar keluarga yang berasal dari satu keturunan yang sama.
Pendek kata pertemuan kelurga IKBAT merupakan ungkapan kebanggan generasi penerus terhadap peletak dasar keturunan.
Konsep demikian merupakan salah satu unsur primordial yang ingin dijadikan sebagai simbol identitas anggota keluarga IKBAT. Makin tinggi status sosial generasi peletak dasar keturunan, makin tinggi pula kebanggaan yang dirasakan.
4. Nilai-nilai Qur’ani
Munculnya budaya silaturahmi dan saling memaafkan pada bulan syawal tidak lepas dari peristiwa besar yang menandai sebelumnya yaitu puasa bulan ramadan yang diakhiri dengan idul fitri. Dengan demikian budaya syawalan mempunyai korelasi erat dengan nilai-nilai qur’ani yang dipedomani oleh umat Islam, walaupun dalam praktiknya budaya syawalan juga diikuti oleh orang-orang yang beragama selain Islam.
Oleh sebab itu maraknya silaturahmi keluarga bani tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai qur’ani yang dijadikan pedoman. Dengan kata lain pertemuan keluarga bani yang dilaksanakan pada bulan syawal merupakan implementasi ajaran qur’an tentang arti penting silaturahmi.
Terdapat salah satu ayat Qur’an yang menjadi “doktrin” bagi kita yang beragama Islam bahwa kelak di surga orang-orang yang beriman dan anak cucu yang mengikuti mereka dalam keimanan akan dipertemukan dengan orang-orang yang berasal dari keturunan yang sama (QS:At Tur (51) ayat 21).
Yang artinya “dan orang orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (didalam surga), dan kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan dengan apa yang dikerjakannya.
Program
Terpopuler
Terbaru
Headline
Topik Pilihan
Komunitas
Event
Video
K-Rewards
LAGI RAME!
Nganggur dan Tidak Berpenghasilan, Jangan!
Agar Paylater Tidak Jadi “Disaster”
Cukup Satu Provinsi Mencoba! Anak Butuh Didengar, Bukan Dihukum
Siapa Saja Target India dalam Serangan Operasi Sindoor di Pakistan?
Dari Rumah ke Barak, di Mana Peran Orang Tua?
Pulau Kucing di Kepulauan Seribu, Inovasi Pemprov Jakarta Atasi Masalah Kucing Liar
cipto lelono
Sudah Pensiun Sebagai Guru
Menulis sebaiknya menjadi hobi
FOLLOW
RAMADAN PILIHAN
Menelisik Pertemuan “Keluarga Bani” Bulan Syawal dengan 4 Alasan, Apa Saja?
28 April 2023 06:49 Diperbarui: 28 April 2023 06:49 6221 32 10
+
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi pertemuan keluarga “bani” Bulan Syawal, memperkenalkan semua anggota keluarga. Dokpri
3. Psikologis
Alasan psikologis yang mendasari pertemuan keluarga bani adalah perasaan bangga terhadap generasi awalnya. Perasaan ini bisa membentuk sikap untuk mempertahankan “marwah keluarga”. Dengan kata pertemuan keluarga bani dapat memperkuat solidaritas sosial antar keluarga yang berasal dari satu keturunan yang sama.
Alasan lain yang bersifat psikologis juga dapat dilihat pada identitas yang digunakan (baju, logo, moto hidup,dll) maupun orientasi dalam mempertahankan “trah” tertentu (bangsawan, elit masyarakat, tokoh terpandang, pemegang pemerintahan wilayah,dll). Pendek kata pertemuan kelurga bani merupakan ungkapan kebanggan generasi penerus terhadap peletak dasar keturunan.
Konsep demikian merupakan salah satu unsur primordial yang ingin dijadikan sebagai simbol identitas anggota keluarga bani. Makin tinggi status sosial generasi peletak dasar keturunan, makin tinggi pula kebanggaan yang dirasakan.
4. Nilai-nilai Qur’ani
Munculnya budaya silaturahmi dan saling memaafkan pada bulan syawal dan dilanjut Dzulqaidah dengan maksud acara Silaturahmi Keluarga IKBAT, dengan demikian budaya silaturahim mempunyai korelasi erat dengan nilai-nilai qur’ani yang dipedomani oleh umat Islam.
Oleh sebab itu maraknya silaturahmi keluarga IKBAT tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai qur’ani yang dijadikan pedoman. Dengan kata lain pertemuan keluarga IKBAT yang dilaksanakan pada bulan ini Dzulqaidah merupakan implementasi ajaran qur’an tentang arti penting silaturahmi.
Terdapat salah satu ayat Qur’an yang menjadi “doktrin” bagi kita yang beragama Islam bahwa kelak di surga orang-orang yang beriman dan anak cucu yang mengikuti mereka dalam keimanan akan dipertemukan dengan orang-orang yang berasal dari keturunan yang sama (QS:At Tur (51) ayat 21).
Pertemuan keluarga bani hakikinya lebih bermuatan nilai-nilai Islam yang diajarkan oleh Al-Qur’an. Namun pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai tersebut, terkesan terabaikan. Praktik yang mengedepan lebih mengesankan aspek sosial, budaya dan psikologis yang lebih bersifat menjunjung aspek-aspek primordial dari unsur kekerabatan. Padahal esensi pertemuan keluarga IKBAT jadi ikhtiar duniawi dengan menggunakan momen bulan Dzulqaidah untuk menggapai visi ukhrowi yaitu selamatnya semua anggota keluarga dari api neraka. Bulan Dzulqaidah dijadikan sebagai momen yang tepat, selain masih berkaitan dengan nuansa maaf-maafan setelah bulan syawal juga mempunyai makna tersendiri sebagai bulan peningkatan kualitas diri. Barangkali alasan filosofis inilah yang menjadi dasar maraknya pertemuan keluarga IKBAT.





































