![]()
xposetv.live//Boalemo, Selasa (31/03/2026) – Proses seleksi terbuka calon Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Boalemo menjadi sorotan publik dan dinilai sebagai momentum penting dalam menguji komitmen reformasi birokrasi di daerah.
Baca Juga: fraksi-partai-golkar-dprd-boalemo-desak-pemerataan-pembangunan-dalam-paripurna-lkpj-2025/
Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Boalemo, Helmi Rasid, menegaskan bahwa seleksi Sekda tidak sekadar agenda administratif, tetapi telah berkembang menjadi indikator arah perubahan tata kelola pemerintahan yang lebih bersih, profesional, dan akuntabel.
Menurut Helmi, empat kandidat yang mengikuti seleksi, yakni Prof. Dr. Nurdin Baderan, Drs. Teguh Jatmika, Syarifudin Lamusu, SE, MM, dan Rahmat Biya, SKM, MM, merupakan representasi sumber daya terbaik yang dimiliki daerah dengan kompetensi akademik dan pengalaman birokrasi yang mumpuni.
Namun demikian, ia menekankan bahwa faktor penentu utama bukan hanya rekam jejak kandidat, melainkan integritas proses seleksi itu sendiri.
“Prinsipnya, keempat calon ini adalah putra terbaik Boalemo yang memiliki kapasitas dan kompetensi. Tinggal bagaimana proses seleksi ini dijalankan secara transparan, objektif, dan akuntabel,” ujar Helmi.
Ia juga menyoroti peran strategis Tim Seleksi (Timsel) yang diketuai Prof. Rauf Hatu. Menurutnya, profesionalisme dan independensi tim menjadi kunci untuk menghindari intervensi serta menjaga kepercayaan publik.
“Kami berharap Tim Seleksi bekerja secara profesional, independen, dan bebas dari intervensi. Ini bukan sekadar memilih pejabat, tetapi menentukan arah masa depan birokrasi Boalemo,” tegasnya.
Dalam perspektif pemerintahan, posisi Sekda memiliki peran strategis sebagai motor penggerak stabilitas dan efektivitas kebijakan daerah. Karena itu, proses seleksi terbuka harus menjadi ruang kompetisi sehat, bukan sekadar formalitas.
Helmi menambahkan, keberhasilan seleksi ini akan menjadi tolok ukur keseriusan pemerintah daerah dalam menjalankan reformasi birokrasi. Jika proses berjalan transparan, maka akan melahirkan legitimasi kuat bagi Sekda terpilih. Sebaliknya, jika dicederai kepentingan tertentu, maka kepercayaan publik terhadap pemerintah turut dipertaruhkan.
“Sekda yang terpilih nanti harus benar-benar figur yang mampu membawa perubahan, memperbaiki sistem, dan memperkuat kinerja birokrasi. Ini momentum penting yang tidak boleh disia-siakan,” pungkasnya.
Dengan demikian, seleksi Sekda Boalemo bukan sekadar rutinitas pergantian pejabat, melainkan pertaruhan besar bagi masa depan tata kelola pemerintahan daerah. Publik kini menunggu hasil dari proses ini, apakah akan melahirkan pemimpin birokrasi yang visioner atau justru kembali pada pola lama yang stagnan.*Red*






































