XPOSE TV//Jakarta – Pertemuan BP2MI dengan KOICA, BP2MI menerima kunjungan dari Korean International Cooperation Agency (KOICA) pada hari kamis 15 Agustus 2024. Pertemuan antara BP2MI dengan KOICA dalam rangka mendiskusikan pengembangan serta penyempurnaan kerjasama Penempatan hingga Peningkatan Kompetensi Pekerja Migran Indonesia pada skema E7 dan E9 ke Korea Selatan. Sabtu (17/8/24).
Tonton vidio ini: Pertemuan Antara BP2MI Dengan Korean Pertemuan BP2MI Dengan KOICA Dalam Kerjasama Penempatan PMI Di Korsel
Direktur Penempatan Pemerintah Kawasan Asia dan Afrika, Seriulina Tarigan menyampaikan apresiasinya atas kedatangan Delegasi KOICA ke BP2MI untuk membahas peluang pengembangan kerjasama di antara kedua pihak.
“Saya dapat katakan, Korea Selatan merupakan negara tujuan penempatan yang menjadi favorit masyarakat Indonesia. Kami sangat mengharapkan sekali rencana pengembangan program penempatan skilled worker sektor welder kapal.
Di Indonesia, sekolah yang memiliki kurikulum welder juga sangat banyak, baik pada level sekolah menengah maupun sarjana”, ungkap Seriulina.
Direktur Penempatan non Pemerintah Kawasan Asia dan Afrika, Mocharom Ashadi, menyampaikan masukannya kepada pihak KOICA serta Korea Offshore & Shipbuilding Association (KOSHIPA)
“Untuk sektor Shipbuilding visa E7, pada skema Private to Private (P to P), ada 24 agency di Indonesia yang sudah siap. Masalahnya banyak Pekerja Migran Indonesia yang telah mendapatkan sertifikasi, namun sampai di Korea malah dilakukan pengujian ulang oleh KOSHIPA dengan dasar bahwa Sertifikatnya tidak recognized”, ungkapnya.
BP2MI memberikan masukan agar penyiapan keahlian melalui Pelatihan lebih awal dan dapat dilakukan di daerah asal Pekerja Migran yakni di Disnaker daerah tingkat kabupaten/kota atau provinsi, artinya jika memungkinkan perlu dibangun pusat pelatihan di 23 Provinsi yang menjadi kantong Pekerja Migran Indonesia.
BP2MI, disebutnya, telah melakukan diskusi dengan Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk bisa menyesuaikan standar rekognisi sertifikat yang dikeluarkan bagi para Pekerja Migran Indonesia.
“Kami meminta KOSHIPA dan BNSP untuk sama-sama menstandarisasi kurikulumnya supaya tidak terjadi lagi permasalahan rekognisi sertifikatnya”, tutup Mocharom.
Narsum: BP2MI RI
Red: H A





































