MAROS – Program INKLUSI PKBI Sulawesi Selatan menggelar Pertemuan Forum Keluarga Komunitas Ragam Gender di Café The Clove, Maros. Acara dihadiri oleh keluarga dari komunitas transpuan (Ragam gender) serta anggota komunitas itu sendiri, 25/03/2025.
Mengusung tema “Menerima dan Menghargai Identitas Komunitas Ragam Gender,” Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman keluarga mengenai identitas gender, memperkuat peran Forum Keluarga dalam memberikan dukungan moral bagi komunitas transpuan serta mendorong perlindungan hak-hak mereka di lingkungan sosial dan hukum.

Acara dibuka oleh Direktur Eksekutif Daerah PKBI Sulsel Andi Iskandar harun dalam sambutannya menyoroti tantangan yang dihadapi keluarga dengan anggota yang memiliki identitas gender beragam.
“Menjadi anggota keluarga dari seseorang yang memilih identitas gender berbeda tentu tidak mudah. Ada keluarga yang menerimanya dengan baik, tetapi ada juga yang masih mengalami kesulitan untuk memahami dan menerima,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa Forum Keluarga dibentuk sebagai perlindungan bagi komunitas ragam gender agar mereka mendapatkan ruang aman dalam keluarga mereka sendiri.
“Keluarga adalah tempat terbaik untuk berlindung. Tidak seharusnya ada tindakan kekerasan dalam keluarga, terutama kepada anggota keluarga yang memiliki identitas gender berbeda. Forum Keluarga hadir untuk memastikan bahwa setiap individu mendapatkan perlindungan dan penerimaan yang layak dari keluarganya sendiri,” tambahnya.
Mengangkat materi “Peran Keluarga dalam Mendukung Komunitas Ragam Gender,” sebagai narasumber, Alita Karen dari yayasan pemerhati perempuan berbagi wawasan tentang pentingnya dukungan keluarga dalam membangun kepercayaan diri dan kesejahteraan komunitas ragam gender. Ia menekankan bahwa penerimaan keluarga memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental dan kehidupan sosial komunitas tersebut.
“Forum Keluarga dapat membantu menciptakan dunia yang lebih adil dan inklusif bagi semua orang, terlepas dari identitas gendernya,” ujar Alita dalam sesi pemaparan materi.
Suasana haru ketika salah satu saudara yang merupakan seorang kakak dari peserta komunitas transpuan (ragam gender) berbagi kisah. Dengan suara bergetar, ia menceritakan bagaimana adiknya diusir dari rumah oleh orang tua mereka, yang menganggap adiknya sebagai aib bagi keluarga.
“Adik saya memberanikan diri untuk mengungkapkan identitasnya, saya tahu ini bukan hal yang mudah baginya. Ayah saya tidak bisa menerima adik saya cekcok dengan orang tua hingga akhirnya adik saya memilih meninggalkan rumah,” ungkapnya sambil menahan tangis.
Ia pun mengungkapkan bahwa ibunya hanya bisa diam dan tidak berkutik ketika hal itu terjadi, “Ibu saya sedih, tapi dia tidak bisa melawan suaminya. Saya sudah berupaya membela adik saya, namun sampai saat ini belum berhasil meyakinkan orang tua saya” lanjutnya.
Sebagai seorang kakak, ia sudah menerima adiknya apa adanya. Namun, ia masih bingung bagaimana memberikan pemahaman kepada orang tuanya agar bisa menerima adiknya kembali.
“Saya ingin adik saya pulang, tapi bagaimana caranya kalau ayah saya masih menganggapnya sebagai aib? Saya ingin ibu saya berbicara, membela adik saya, tapi dia juga takut. Saya bingung, saya ingin keluarga kami kembali utuh,” katanya dengan suara lirih.
Momen ini membuat banyak peserta terharu. Beberapa komunitas ragam gender pun ikut berbagi pengalaman bagaimana sebelumnya mereka tidak diterima hingga akhirnya perlahan bisa berdamai dengan keluarga.
Di akhir kegiatan, Koordinator Program Agus Safri menyampaikan harapannya agar stigma yang masih ada di masyarakat dapat berkurang, dan semakin banyak keluarga yang menerima serta menghargai anggota keluarganya dengan identitas gender yang beragam. “Setiap individu berhak untuk dicintai dan diterima oleh keluarganya sendiri, tanpa terkecuali.”, ujar Agus Safri.

Acara ini diakhiri dengan buka puasa bersama dan menyepakati berbagai langkah konkret untuk memperkuat peran Forum Keluarga terutama dalam hal perlindungan kekerasan bagi komunitas ragam gender.






































