JIKA ADA YANG MEMPERMASALAHKAN TOLERANSI BERARTI DIA MASIH AMATIR SEBAGAI MANUSIA

XPOSE TV. Lotim – NTB, Ketika mendapat amanah menjadi Tim Ahli di Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Jakarta sekitar tahun 2011-2012, saya mendapat kesempatan berkeliling Indonesia dengan biaya negara. Kebetulan saat itu sedang dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum KTSP, kami Tim Ahli BSNP mendapatkan tugas langsung ke daerah-daerah melaksanakan evaluasi pelaksanaan Kurikulum KTSP di masing-masing daerah. Masing-masing daerah sangat proaktif membantu pelaksanaan tugas kami. Anggota tim sebagian besar para ilmuwan senior, banyak mantan rektor dari Perguruan2 Tinggi terbaik. Tentu banyak sekali ilmu yang saya dapatkan dari para ilmuwan yang selama ini hanya saya tahu dari buku-buku yang mereka karang. Karena secara usia saya termasuk paling muda, kadang-kadang saya bertugas mengganti para senior yang kurang sehat, sehingga dari satu tempat langsung ke tempat lain tanpa harus ke Jakarta dulu. Perjalanan yang paling mengesankan saya ketika bertugas ke Ambon. Saya ke Ambon didampingi dua staf dari sekertariat BSNP. Begitu turun dari bandara saya lihat umbul-umbul dan ucapan selamat datang sepanjang jalan. Rupanya ada perhelatan MTQ Nasional. Saya nanya ke sopir taxi, “Bang, kayaknya ada MTQ Nasional ya””Ia, pak. Masak bapak nggak tahu, Ambon tuan rumah MTQ nasional.” Jelas sopir taksi bangga. “Oh, saya tidak tahu,” Jawab saya apa adanya. Ya saya betul-betul fokus pada tugas sehingga tidak tahu kehadiran saya di Ambon bertepatan dengan gawe besar MTQ Nasional. ” Besok saya akan ikut pawai ta’aruf, meskipun kami Kristen, menjadi tuan rumah MTQ merupakan suatu kehormatan bagi kami. Saat ada basudara yang berbeda agama membuat acara besar seperti MTQ, menjadi kewajiban kami membantunya”.” Wah mantap, bang. Memang saling bantu membantu merupakan tanda kita bersaudara, saudara sebangsa”. Kata saya menguatkan semangat toleransinya. Sopir taksi melanjutkan dengan bersemangat, ” Dulu tahun 1984 saat sidang Persekituan Gereja Indonesia yang dihadiri perwakilan gereja dari seluruh Indonesia, umat Islam di Ambon ikut membantu pelaksanaan sidang”. Sore berganti malam, sayup-sayup terdengar azan magrib dari salah satu masjid di pinggir jalan. Saya lihat warna warni lampion bergambar bulan bintang di desa-desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Lampion-lampion yang biasanya bergambar salib berganti dengan gambar bulan bintang. Besoknya, ketika bertemu dengan kepala dinas pendidikan, semangat yang sama saya tangkap dari wajah-wajah gembira pak kadis dan staf-stafnya. Mereka hanya menerima saya sebentar, karena masih sibuk dengan finishing persiapan MTQ. Dari salah satu kabid saya dapat cerita bahwa pemuka agama Protestan dan Kristen Katolik mempersiapkan penggunaan rumah pendeta dan wisma Gonzalo milik keuskupan Amboina guna dipakai peserta MTQ yang datang dari seluruh Indonesia, jika kamar hotel tidak mampu menampung 5000 lebih perserta dan oficial MTQ yang akan dari seluruh penjuru Indonesia. Selesai melakukan survey ke sekolah-sekolah saya sempatkan diri berkunjung ke lokasi acara. Terlihat banyak warga terkesima, dekorasi panggung yang terkesan megah dengan nuansa merah putih serta hijau, di samping tata cahaya ribuan volt yang dipancarkan dari berbagai penjuru lapangan. ” Wah tata cahayanya megah sekali. Ini seperti hendak menyaksikan konser besar dari artis luar negeri”, ujar seorang warga nyeletuk. Saya terharu melihat mereka berpose bersama keluarga mengabadikan kemegahan arena pembukaan MTQ, dengan telpon genggam dan kamera profesional mereka, meskipun bukan Muslim. ” Ramai sekali, ” Saya nyeletuk. “Besok malam katong (kita) agak sulit masuk karena pasti disterilkan aparat, karena besok Presiden SBYSBY yang akan buka. Pasti penjagaan agak ketat” Jelas seorang pengunjung ke saya.Saya teringat ungkapan seorang bijak, “Jika Tuhan memberiku cinta dengan dibungkus agama, maka akan aku jaga agamaku tanpa menyakiti agama orang lain, dan jika Tuhan memberiku rasa yang dibalut dengan toleransi, maka akan ku hargai pendapat orang lain, jika masih ada yang mempermasalahkan dua hal itu, dia manusia amatir”. (JIKA ADA YANG MEMPERMASALAHKAN TOLERANSI BERARTI DIA MASIH AMATIR SEBAGAI MANUSIA)

🇮🇩 CATATAN REDAKSI: 🇮🇩 Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita dan atau konten video tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi dan/atau hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.👍 Artikel/berita yang dimaksud dapat dikirimkan melalui email redaksi: xposetv0@gmail.com. Terima kasih.👍👍👍

Pos terkait

Tinggalkan Balasan