![]()
Sulut – XposeTV. Jalan tondano manado rusak parah. Proyek pengaspalan jalan di Jalan Tondano, Manado, yang dikerjakan pada Desember 2024, kini menuai protes warga akibat kerusakan parah dan dampak banjir yang menggenangi permukiman.
Proyek yang digarap tanpa papan informasi tersebut disebut dilakukan secara tidak profesional, termasuk pengerjaan malam hari, penutupan lubang yang tidak tahan air, hingga jalan yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan air hujan mengalir ke halaman warga.
Menurut pengakuan warga, proyek ini awalnya menutup lubang jalan dalam kondisi basah, namun tiga hari kemudian sudah rusak dan harus diulang.
Proses serupa terulang hingga tiga kali sebelum akhirnya jalan diaspal seluruhnya. Namun, ketinggian aspal yang tidak sesuai justru membuat air hujan tidak terserap ke saluran drainase, melainkan menggenangi rumah-rumah warga. Kini, jalan tersebut kembali rusak parah dengan lubang-lubang dalam yang membahayakan pengendara.
Baca juga: bank-sulutgo-terpuruk-direktur-utama-refino-pepa-gagal/
Saat dikonfirmasi oleh ketua DPP Pengawasan dan Pemantauan Forrado Welly Mamonto kepada Kepala Dinas PUPR Provinsi Sulawesi Utara, Deisy Paat, menyatakan bahwa proyek tersebut bukan tanggung jawab PUPR Provinsi, melainkan dikelola oleh UPTD Wilayah 1. Welly pun kemudian diarahkan ke Kepala UPTD, Fence Karundeng. Namun, Karundeng justru membantah dan mengklaim bahwa proyek tersebut merupakan pekerjaan PUPR Provinsi. “Kami disuruh menghubungi Kadis (Deisy Paat) untuk perbaikan, tapi setelah itu tidak ada jawaban lagi,” ucapnya
Frustrasi atas sikap pemerintah yang dianggap abai, puluhan warga pengguna Jalan Tondano mengancam akan menggelar aksi unjuk rasa bersama Forrado ke Kantor Dinas PUPR Sulut. “Kami sudah laporkan berkali-kali, tapi tidak ada tindakan. Jalan ini semakin membahayakan, terutama saat hujan. Jika tidak diperbaiki, kami akan turun ke jalan,” tegas Andi, salah satu tokoh masyarakat setempat.
Warga menuntut pemerintah segera melakukan audit proyek, memperbaiki jalan, dan memulihkan drainase yang bermasalah. Mereka juga meminta pertanggungjawaban pihak terkait atas dugaan pelanggaran prosedur dalam pengerjaan proyek.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Deisy Paat maupun Fence Karundeng terkait rencana perbaikan.** (Tim).






































