![]()
Pohuwato — XposeTV. AKPERSI Dan APRG Mengguncang Pohuwato. Suara rakyat meledak di jalanan Pohuwato. Aksi damai yang digelar Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI) bersama Aliansi Peduli Rakyat Gorontalo (APRG) pada Senin (24/11/2025) tadi siang berlangsung masif dan penuh tekanan moral terhadap aparat penegak hukum. Aksi tersebut dipimpin langsung oleh tiga orator utama sekaligus korlap yang dikenal vokal dan kritis, Imran Uno, Kamaruddin Kasim, dan Arlan Arif.
Kehadiran tiga figur ini menjadi magnet tersendiri bagi peserta aksi. Suara lantang mereka menggema di setiap titik rute aksi, mulai dari Taman Paguat, Polsek Paguat, Kantor Bupati Pohuwato, hingga Polres Pohuwato, sembari mendesak penegakan hukum yang bersih, berani, dan tanpa kompromi.
Aksi damai ini digelar sebagai bentuk protes keras terhadap serangkaian kejadian yang dianggap mencederai rasa keadilan publik, terutama tewasnya dua warga di lokasi tambang ilegal Bulangita yang diduga kuat terjadi akibat kelalaian fatal. Selain itu, dugaan keterlibatan oknum aparat Polsek Paguat dan praktik pungli yang dilakukan oknum kepala desa turut memperkuat gelombang kemarahan masyarakat.
Baca juga: https://xposetv.live/ketua-umum-akpersi-siap-bantu-kejagung-awasi-dana-desa/
Dalam orasinya, Imran Uno menegaskan bahwa rakyat kini berada pada titik kritis.
“Kami tidak akan membiarkan hukum dipermainkan. Ketika rakyat tak lagi dilindungi, maka suara kebenaran harus turun ke jalan,” serunya di hadapan massa.
Di sisi lain, Arlan Arif menyebut aksi ini sebagai teguran keras terhadap pemerintah daerah dan aparat hukum.
“Tidak boleh ada pembiaran. Setiap oknum yang melanggar hukum harus diproses. Rakyat sudah cukup sabar, dan hari ini kami berdiri untuk mereka,” tegasnya.
Sementara itu, Kamaruddin Kasim menekankan bahwa perjuangan rakyat tidak boleh dipatahkan oleh kekuasaan.
“Kami hadir bukan untuk mencari musuh, tapi untuk memastikan hukum berdiri tegak. Jika ada aparat atau pejabat yang bermain, mereka harus bertanggung jawab,” ujarnya lantang.
Dalam aksi damai tadi siang, AKPERSI dan APRG menegaskan tujuh tuntutan utama:
1. Mengusut tuntas unsur kelalaian atas tewasnya dua warga di tambang ilegal Bulangita.
2. Mengusut dugaan keterlibatan oknum aparat di jajaran Polsek Paguat.
3. Memproses sesuai hukum setiap aparat yang terbukti melanggar tanpa pandang bulu.
4. Mengusut oknum kepala desa yang diduga melakukan pengumpulan atensi dan pungli.
5. Membersihkan struktur pemerintahan desa dari praktik pungutan liar berkedok atensi.
6. Menangkap Ferdi Mardain segera.
7. Menolak keras anggapan bahwa tragedi ini adalah ‘insiden biasa’.
Aksi yang dipimpin oleh Imran Uno, Kamaruddin Kasim, dan Arlan Arif ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat Gorontalo tidak akan lagi diam terhadap ketidakadilan. Tiga orator tersebut memastikan aksi berlangsung tertib, damai, namun tetap tegas dalam menyampaikan pesan inti: hukum harus ditegakkan tanpa tebang pilih.
Dengan teriakan keras #LAWAN, massa menegaskan komitmen untuk terus mengawal kasus ini hingga seluruh tuntutan ditindaklanjuti secara nyata. Aksi tadi siang bukan hanya bentuk protes, tetapi juga deklarasi bahwa rakyat Gorontalo siap berdiri di garis depan melawan penyalahgunaan kekuasaan.






































